Swararaya.com, SOLO – Pernikahan bukan sekadar perayaan sehari, melainkan komitmen yang harus dirawat sepanjang kehidupan. Pesan itu disampaikan Rama Ibnu Fajar Muchammad, MSF, dalam khotbah Perayaan Ekaristi Penerimaan Sakramen Perkawinan G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian di Gereja Santo Antonius Padua Purbayan, Solo, Jumat (6/11/2026).
Perayaan Ekaristi tersebut dipimpin tiga imam, yakni Rama Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr; Rama Walterus Teguh Santosa, SJ; dan Rama Ibnu Fajar Muchammad, MSF.
Dalam khotbahnya, Rama Ibnu mengajak kedua mempelai mengingat kembali perjalanan hubungan mereka. Saat ditanya mengenai awal pertemuan, keduanya menceritakan bahwa hubungan tersebut sempat terjalin dalam dua periode. Mereka pernah berpisah sebelum akhirnya kembali bertemu dan melanjutkan hubungan.
Menurut Rama Ibnu, perjalanan perkawinan tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan pendapat dan pengalaman yang menyakitkan bisa saja muncul dalam kehidupan rumah tangga. Namun, pasangan perlu belajar mengatasi persoalan dengan saling mengampuni dan menghormati perbedaan.
“Yang tidak mulus bukan hanya perkawinan, tapi saat pacaran juga bisa tidak mulus,” kata dia.
Ia mengingatkan bahwa menghormati perbedaan pasangan juga merupakan bentuk penghormatan kepada Allah. Setiap manusia memiliki keunikan, baik secara fisik maupun dalam cara berpikir. Karena itu, suami dan istri tidak seharusnya memaksakan pasangannya untuk selalu memiliki pandangan yang sama.
Kunci untuk menyatukan dua pikiran dan dua hati, kata dia, adalah cinta yang diwujudkan melalui kesediaan untuk saling mendengarkan. Pasangan perlu memberi ruang bagi satu sama lain untuk menyampaikan pikiran dan perasaan.
Rama Ibnu mengingatkan bahwa manusia memiliki dua telinga dan satu mulut. Pesan tersebut menjadi pengingat agar pasangan lebih banyak mendengarkan, bukan hanya sibuk berbicara. Kemampuan mendengarkan juga perlu disertai kepekaan untuk memahami bahasa tubuh pasangan.
Menurut dia, mendengarkan merupakan anugerah yang dapat membantu suami dan istri memahami satu sama lain. Dengan begitu, perbedaan tidak harus menjadi sumber pertengkaran, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk saling mengenal dan menguatkan.
Rama Ibnu juga menyampaikan pesan khusus kepada kedua mempelai. Kepada Adimas sebagai suami, ia mengingatkan pentingnya menjaga kesetiaan, baik kepada istri maupun anak-anak dalam kehidupan keluarga kelak.
Sementara kepada Gusti Sura, ia berpesan agar senantiasa mengistimewakan suami tanpa disertai rasa iri. Ia juga menekankan pentingnya peran istri dalam mendukung dan menjaga integritas suami.
Selain kesetiaan dan komunikasi, Rama Ibnu mengingatkan kedua mempelai agar membangun kebiasaan berdoa bersama. Kehidupan doa perlu menjadi bagian dari keseharian rumah tangga. Ketika dua orang berkumpul dalam doa dan pergumulan, Allah hadir di tengah mereka.
Ia juga berpesan agar Injil menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran di dalamnya tidak cukup hanya didengar saat perayaan keagamaan, tetapi perlu diwujudkan melalui sikap dan tindakan terhadap pasangan maupun keluarga.
Menutup khotbahnya, Rama Ibnu menyampaikan pesan bahwa pernikahan bukan hanya tentang satu hari perayaan, melainkan perjalanan panjang yang harus dijalani bersama.
“Wedding is only a day, but married all time,” pesannya.
Gusti Sura merupakan putri almarhum K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IX dan G.K.P. Mangkoenagoro IX, Prisca Marina Haryogi Supardi. Sementara Adimas merupakan putra ketiga pasangan K.P. Yustinus Soeroso dan Yustina Rahyuni Soeroso, pendiri perusahaan otobus Rosalia Indah.
Pemberkatan pernikahan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Dhaup Ageng Mangkunegaran yang berlangsung pada 6-8 November 2026. Setelah pemberkatan, kedua mempelai dijadwalkan melanjutkan rangkaian pernikahan dengan prosesi adat Panggih di Pura Mangkunegaran.

Leave a Reply