Minggu (25/10/2026) lalu, Wali Kota Solo, Respati Ardi, berkendara sepeda motor bersama buah hatinya berkeliling Kota Solo. Bersama sejumlah pengendara lain yang berkendara bersama buah hati masing-masing, Respati sengaja meluangkan waktu untuk membangun memori positif bersama anak. Aksi ini menjadi bagian dari gerakan mendorong para ayah untuk turun langsung dalam pengasuhan dan menyediakan waktu khusus beraktivitas bersama buah hati.
Bulan Juli lalu, Respati mendeklarasikan Gerakan Ayah Seneng Momong Anak Solo (GAS MAS). Gerakan yang diinisiasi Komunitas Jalan Bareng Ayah ini sebagai upaya mendorong peran ayah lebih aktif dalam pengasuhan anak. Baginya, menjadi ayah bukan cuma soal memenuhi kebutuhan keluarga dalam hal ekonomi.
Di sisi lain, seorang ayah juga harus bisa meluangkan waktu, memberikan perhatian, mendengarkan cerita, hingga mendampingi proses tumbuh kembang anak. Proses ini, menurut Respati, bisa menjadi salah satu upaya mencegah perundungan dan mencegah terjadinya penyimpangan.
Keterlibatan figur ayah secara emosional dinilai mampu membentuk fondasi karakter anak sejak dini. Melalui kampanye ini, dia berharap kehadiran dan kebersamaan sederhana seorang ayah dan anak menjadi investasi berharga bagi kesehatan mental dan psikologis generasi penerus di Kota Solo.
Gerakan atau kampanye ini patut diapresiasi. Di tengah kesibukan dan tanggung jawab mencari nafkah untuk keluarga terkadang membuat orang tua, terutama ayah, seolah kehabisan waktu untuk sekadar bercengkerama dengan anak. Tak salah bila Mas Wali, kemudian menggalakkan gerakan ini.
Dalam filosofi Jawa ada istilah “ngemong”. Kamus Bahasa Jawa-Indonesia yang dikelola Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, menyebut “ngemong” memiliki makna menjaga atau mengawasi sambil membuat anak yang dijaga merasa senang, memperlakukan seseorang dengan baik seperti anak sendiri, serta menjaga perasaan. Dalam konteks keluarga, ayah tidak hanya berperan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tapi juga membentuk karakter, nilai, dan teladan bagi anak.
Hal itu bisa dimaknai, ayah tak cuma berpikir dan melakukan berbagai upaya memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan. Lebih dari itu, juga harus memenuhi kebutuhan psikologis, mental, hingga bekal masa depan anggota keluarga, istri dan anak. Lebih jauh lagi, ayah memastikan anak dan istri mendapatkan perlindungan, pendidikan, keadilan, hingga kesempatan untuk bertumbuh kembang.
Kepedulian
Bagi para ayah, “ngemong”, dilakukan sesuai dengan karakter, kapabilitas, dan kondisi masing-masing keluarga. Tiap orang berbeda cara menerapkannya. Ada yang menerapkannya dengan lemah lembut, keras dan kaku, hingga tanpa kompromi, bahkan dicap galak oleh anak. “Ngemong” bukan hal yang mudah dilakukan. Karena karakter tiap ayah pun berbeda-beda, masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Ada ayah yang cuek dengan perkembangan anaknya, ada pula yang sangat perhatian hingga hal-hal detail.
Tapi, hal yang paling mendasar bisa dilakukan adalah kepedulian. Rasa peduli akan masa depan anak agar kelak mampu berkompetisi dalam mencapai cita-citanya. Peduli dengan pembentukan karakter anak yang baik sehingga berperilaku normatif dan tidak menyimpang apalagi merugikan orang lain, serta peduli dengan lingkungan sekitarnya.
Kepedulian yang ditunjukkan oleh seorang ayah setidaknya akan membentuk memori yang baik dan menjadi teladan bagi anak. Keteladanan akan mendorong anak melakukan kepedulian yang sama terhadap orang lain dan lingkungannya. Teman si anak dan orang lain juga akan terpapar hal yang sama. Secara berantai, kepedulian itu akan menyebar lebih luas lagi.
Orang tua yang benar-benar “ngemong” akan tahu kebutuhan anak dalam berbagai hal. Misalnya dalam hal pendidikan, perhatian dan kepedulian ditunjukkan dengan bertanya apakah si anak nyaman dan aman berada di sekolah. Bertanya kepada guru apakah si anak bisa mengikuti seluruh proses pembelajaran sesuai kompetensi dasarnya, dan hal lainnya.
Dalam pergaulan, orang tua atau ayah bisa bertanya si anak berteman dengan siapa saja. Mengajak anak mengobrol tentang keseharian mereka di sekolah maupun lingkungan di luar sekolah dan berbicara tentang cita-citanya. Terlihat sepele, tapi belum tentu bisa dilakukan.
Pada akhirnya, “ngemong” adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas manusia dalam keluarga. Melalui keluarga yang harmonis setidaknya akan terbentuk karakter, kompetensi, dan akhlak yang membanggakan dan membawa kebaikan.

Leave a Reply