Swararaya.com, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2026 mencapai 5,47% secara tahunan atau year on year (YoY). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal sebelumnya yang sebesar 5,29%.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Moh. Edy Mahmud menjelaskan produk domestik bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada kuartal III/2026 mencapai Rp6.741,0 triliun. Nilai tersebut meningkat dibandingkan dengan PDB atas dasar harga berlaku pada kuartal III/2025 yang sebesar Rp6.060,0 triliun.
Adapun PDB berdasarkan harga konstan pada kuartal III/2026 mencapai Rp3.633,2 triliun. Angka tersebut naik dibandingkan dengan posisi PDB berdasarkan harga konstan pada kuartal III/2025 yang sebesar Rp3.444,8 triliun.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III/2026 bila dibandingkan dengan triwulan III/2025 atau secara YoY tumbuh sebesar 5,47%,” ujar Edy dalam konferensi pers pertumbuhan ekonomi kuartal III/2026, Kamis (5/11/2026), dilansir Bisnis.com.
Menurut BPS, seluruh lapangan usaha tumbuh positif. Sejumlah sektor yang menjadi kontributor pertumbuhan ekonomi di antaranya industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan.
Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2026 mencapai 5,61%, sedangkan pada kuartal II/2026 sebesar 5,29%. Adapun pada periode yang sama tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi kuartal III/2025 tercatat sebesar 5,04%.
Sebelumnya, para ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal III/2026 berada pada median 5,2% secara tahunan. Proyeksi tersebut terungkap dalam survei BIG Consensus Insights yang dilaksanakan DataIndonesia, bagian dari riset Bisnis Indonesia Group (BIG), terhadap sejumlah ekonom dan analis terkemuka di Indonesia.
Survei BIG Consensus Insights diikuti 11 ekonom dan analis. Median proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III/2026 sebesar 5,2% diperoleh dari rentang proyeksi para partisipan, yakni sekitar 5%-5,29% secara tahunan.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi tertinggi diberikan Kepala Ekonom Perbanas Winang Budoyo sebesar 5,27%. Sementara itu, proyeksi terendah disampaikan Ekonom Bank Danamon Hosianna E. Situmorang sebesar 5%.
Proyeksi median sebesar 5,2% tersebut lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2026 sebesar 5,61% dan kuartal II/2026 sebesar 5,29%. Artinya, para ekonom dan analis sebelumnya memperkirakan terjadi perlambatan laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2026.
Meski demikian, proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III dalam tiga tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2023 tercatat sebesar 4,94%, kemudian 4,95% pada kuartal III/2024, dan 5,04% pada kuartal III/2025.
Pada kuartal III/2026, BIG Consensus Insights juga memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 1,33% secara kuartalan atau quarter to quarter (QtQ). Angka tersebut jauh di bawah pertumbuhan ekonomi secara kuartalan pada kuartal II/2026 yang mencapai 3,73%.
Hasil survei BIG Consensus Insights menunjukkan konsumsi dan investasi menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi kuartal III/2026, sedangkan kontribusi ekspor relatif minim.
Sebanyak 54,55% ekonom dan analis menyebut konsumsi rumah tangga sebagai faktor penopang pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, komponen investasi dipilih oleh 45,45% responden, konsumsi pemerintah 36,36% responden, dan ekspor 27,27% responden.
Secara sektoral, terdapat lima sektor yang paling banyak disebut para ekonom dan analis sebagai motor pendorong pertumbuhan ekonomi kuartal III/2026. Industri pengolahan menjadi sektor yang paling banyak dipilih, yakni 72,73% dari total responden.
Berikutnya, sektor perdagangan dipilih oleh 36,36% responden. Sektor informasi dan komunikasi (infokom) serta konstruksi masing-masing dipilih oleh 27,27% responden. Adapun sektor pertanian dipilih oleh 18,18% responden.
BIG Consensus Insights per 4 November 2026 juga mengungkapkan median proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir 2026 sebesar 5,27%. Proyeksi terendah berada di angka 4,8%, sedangkan proyeksi tertinggi mencapai 5,34% secara tahunan.
Konsumsi rumah tangga dan investasi, akselerasi belanja pemerintah, serta ekspor komoditas tertentu menjadi katalis pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun ini.

Leave a Reply