Swararaya.com, SLEMAN — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit leptospirosis, terutama pada masa peralihan musim.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati, mengatakan berdasarkan data terbaru, terdapat 112 kasus leptospirosis terdiagnosis di Sleman. Dari jumlah tersebut, dua pasien meninggal dunia. Selain itu, tercatat dua kasus kematian pada pasien yang masih berstatus suspek.
“Tren kasus leptospirosis dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Persebaran wilayahnya pun kini semakin meluas dan tidak hanya terpusat di kawasan barat, melainkan telah bergeser ke wilayah tengah dan timur, bahkan di luar kawasan persawahan. Untuk itu, masyarakat harus menjaga kebersihan,” kata Khamidah di Sleman, Kamis (5/11/2026), dilansir Antara.
Dia mengatakan peningkatan kasus leptospirosis tidak semata-mata dipengaruhi faktor musim, tetapi juga perilaku masyarakat dan kondisi lingkungan.
Penularan dan Gejala Leptospirosis
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan bakteri Leptospira. Bakteri tersebut dapat menyebar melalui urine hewan pembawa penyakit, salah satunya tikus.
Bakteri Leptospira dapat bertahan di lingkungan yang lembap, tergenang air, atau minim pencahayaan. Lingkungan tersebut antara lain selokan, genangan air di sawah, dan kawasan permukiman.
Bakteri dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka pada kulit, termasuk luka kecil akibat garukan atau gigitan nyamuk, serta melalui selaput lendir seperti mulut dan mata.
“Kami juga mengingatkan masyarakat agar mengenali gejala spesifik leptospirosis,” katanya.
Selain demam dan nyeri otot yang kerap disangka sebagai gejala flu biasa, gejala lain yang perlu diwaspadai adalah nyeri hebat pada betis tanpa didahului aktivitas fisik berat atau kelelahan.
Warga yang mengalami gejala tersebut diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Khamidah mengatakan puskesmas telah menyediakan layanan pemeriksaan awal menggunakan leptotest atau rapid diagnostic test (RDT) untuk mendeteksi infeksi.
Langkah Pencegahan
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Sleman mengimbau masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), membiasakan cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, serta menggunakan alat pelindung diri (APD) dan penutup luka kedap air saat membersihkan lingkungan atau beraktivitas di sekitar genangan air.
Masyarakat juga diajak melakukan gerakan Tangkap Tikus Mandiri (TTM) dan Operasi Tangkap Tikus (OTT) secara serentak. Penangkapan tikus disarankan menggunakan perangkap, bukan dengan cara mengejar atau mengeroyok tikus. Cara tersebut untuk mencegah urine tikus mencemari lingkungan sekitar.
Dinkes Sleman turut mengingatkan masyarakat agar memperhatikan cara penanganan bangkai tikus untuk mencegah penyebaran penyakit.
“Bangkai tikus wajib dikubur di dalam tanah agar tidak menjadi sumber penularan penyakit baru, sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman di sekitarnya,” kata Khamidah.

Leave a Reply