Swararaya.com, KLATEN — Bank Indonesia menggelar Program Rupiah Gaul atau gerakan tukar uang logam di Bank Jateng Kantor Cabang Klaten, Sabtu (4/11/2026). Di antara warga yang berdatangan, ada seorang pedagang yang menukarkan dua karung uang logam aneka pecahan dengan total nominal mencapai jutaan rupiah.
Gerakan itu digelar BI untuk memaksimalkan peredaran uang logam. Kegiatan itu digelar di halaman parkir Bank Jateng Kantor Cabang Klaten yang berlokasi di Jl Veteran, Kelurahan Bareng Lor, Kecamatan Klaten Utara.
Warga berdatangan membawa pecahan uang logam menggunakan aneka wadah. Salah satunya Gatot Sudarsono, 53, yang membawa uang receh dalam jumlah banyak diwadahkan dua karung.
Ia memboncengkan dua karung uang receh dengan total berat 40 kg itu menggunakan sepeda motor bebek. Uang itu ia kumpulkan selama lima tahun.
Gatot merupakan pedagang pakaian dan makanan yang biasa buka lapak di area car free day (CFD) Klaten serta Sukoharjo. Uang logam ia kumpulkan dari transaksi saat berjualan.
“Ketika ada yang beli, menggunakan uang logam saya masukkan ke ember. Kalau yang kondisinya sudah rusak saya simpan. Yang masih bagus, saya gunakan untuk kembalian. Kemarin disimpan di rumah, kalau empat ember ada,” kata Gatot yang merupakan warga Desa Tegalrejo, Kecamatan Ceper saat ditemui di sela penukaran.
Nilai pecahannya bervariasi. Ada Rp200, Rp500 hingga Rp1.000. Kondisi yang yang ia bawa beragam. Ada yang rusak seperti bengkok atau cacat.
Setelah dilakukan penghitungan, total uang logam yang dikumpulkan selama 5 tahun senilai Rp4,2 juta. Uang itu kemudian ditukar menggunakan uang kertas.
Gatot sudah sering menukarkan uang ke BI Solo. Ia menyambut positif pelayanan penukaran digelar di Klaten pada Rabu. “Cakep kalau ada kegiatan jemput bola seperti ini. Lebih dekat untuk menukarkan uang,” kata dia.
Unit Implementasi Pengelolaan uang Rupiah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Andrea Hermawan, menjelaskan Program Rupiah Gaul menjadi salah satu program kerja di BI. “Tujuan dari program Rupiah Gaul ini untuk memaksimalkan sirkulasi peredaran uang logam,” kata Andre.
Berbeda dengan uang kertas yang sirkulasinya sudah bagus, selama ini sirkulasi uang logam belum maksimal. “Seperti kita tahu, pola yang ada di masyarakat itu misalkan mendapatkan kembalian uang logam, biasanya disimpan di laci, lemari, omplong dari plastik atau celengan. Jadi, sirkulasinya belum maksimal. Sementara, beberapa retail atau pusat perbelanjaan itu juga butuh untuk kembalian. Makanya, kami menginisiasi gerakan tukar uang logam ini,” kata Andre.
Program Rupiah Gaul sudah digelar di berbagai wilayah Soloraya. Andre menilai antusias warga Klaten untuk mengikuti program tersebut cukup tinggi. Hal itu dibuktikan dengan warga yang berdatangan untuk menukarkan uang logam dengan nominal cukup banyak.

Leave a Reply