Gayeng! Bupati-Wabup Karanganyar Main Ketoprak Bareng Yati Pesek dan Marwoto

Gayeng! Bupati-Wabup Karanganyar Main Ketoprak Bareng Yati Pesek dan Marwoto
Pertunjukan Ketoprak Babad Karanganyar yang digelar di Gedung Teater setempat pada Kamis (18/6/2026) malam. (Daerah/Indah Septiyaning Wardani)

Swararaya.com, KARANGANYAR — Pementasan ketoprak lakon Babad Karanganyar sukses menyedot perhatian masyarakat di Gedung Teater Karanganyar, Kamis (18/6/2026) malam. Tak hanya menghadirkan seniman-seniman ternama, pertunjukan yang mengangkat sejarah lahirnya Kabupaten Karanganyar itu juga melibatkan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), termasuk Bupati dan Wakil Bupati Karanganyar.

Kolaborasi antara Pemkab Karanganyar, seniman, TNI, Polri, dan komunitas seni tersebut menjadi salah satu daya tarik utama dalam Gelar Budaya Sesarengan Mbangun Karanganyar. Event yang digelar Pemkab Karanganyar bersama Yayasan Pendapa Budaya Indonesia ini pun mampu menyedot perhatian penonton.

Ketua Panitia dari Yayasan Pendapa Budaya Indonesia, Purwanto, mengatakan lakon Babad Karanganyar mengisahkan perjalanan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa saat berjuang melawan VOC dan akhirnya bertemu dengan Nyi Ageng Karang. Pertemuan bersejarah itu menjadi cikal bakal lahirnya nama Karanganyar.

Tokoh Raden Mas Said diperankan Ki Dalang Sulardiyanto, sedangkan Nyi Ageng Karang dimainkan seniman senior Yati Pesek. Kehadiran Marwoto sebagai Patih Pringgalaya turut menghidupkan suasana panggung melalui akting yang kuat dan mengundang respons penonton.

Yang menarik, Bupati Karanganyar Rober Christanto tampil langsung memerankan Paku Buwana, penguasa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sementara Wakil Bupati Karanganyar Adhe Eliana berperan sebagai Begawan Sidik Waseso.

Dandim 0727/Karanganyar Letkol Kav Dhanang Prasetyo Kurniawan juga ikut tampil sebagai Komandan VOC, sedangkan Kapolres Karanganyar AKBP Arman Sahti memerankan Tumenggung Wirabraja.

Penguatan Identitas Daerah

Pementasan dibuka dengan adegan pertempuran antara pasukan Raden Mas Said melawan kompeni Belanda. Terdesak oleh kekuatan persenjataan lawan, pasukan Pangeran Sambernyawa terpaksa mundur ke wilayah timur dan mencari perlindungan di tengah hutan. Pada bagian inti cerita, Raden Mas Said bertemu Nyi Ageng Karang yang memberikan petuah melalui simbol semangkuk jenang bekatul. 

“Melalui petuah itu, Nyi Ageng Karang mengajarkan pentingnya strategi dalam menghadapi musuh. Raden Mas Said juga memperoleh keyakinan baru yang membangkitkan kembali semangat perjuangannya hingga akhirnya berhasil bangkit dan melanjutkan perlawanan,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan puncak pertunjukan terjadi saat Pangeran Sambernyawa mendeklarasikan nama Karanganyar untuk wilayah yang menjadi tempat pertemuan bersejarah tersebut. Nama itu dimaknai sebagai daerah yang lahir dari pencerahan baru dan harapan baru bagi masa depan.

Ia mengatakan pementasan ketoprak tersebut bukan sekadar hiburan bagi masyarakat, melainkan sarana edukasi sejarah dan pelestarian budaya lokal. “Melalui pementasan ketoprak babad ini, masyarakat Karanganyar tidak sekadar disuguhi tontonan. Lebih dari itu, pertunjukan ini menghadirkan tuntunan yang sarat makna tentang strategi perjuangan, nilai spiritual, dan penghormatan kepada para leluhur,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Karanganyar Rober Christanto menyampaikan pelestarian budaya menjadi bagian penting dalam pembangunan karakter masyarakat dan penguatan identitas daerah.

“Budaya adalah akar yang menguatkan jati diri kita. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mencintai, menjaga, dan melestarikan budaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” katanya.

Tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan seni tradisional masih memiliki tempat di tengah perkembangan zaman. Pemerintah Kabupaten Karanganyar berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan guna menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat semangat kebersamaan masyarakat.

Leave a Reply